
BERITABLORA.ID – Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Blora terus menggencarkan upaya eliminasi Tuberkulosis (TBC) sebagai bagian dari program prioritas nasional yang beririsan dengan inisiatif Cek Kesehatan Gratis.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkesda Blora, Prih Hartanto, menegaskan bahwa penemuan kasus aktif hanyalah langkah awal, yang harus diikuti dengan pengobatan tuntas dan upaya pencegahan penularan yang ketat.
“Memang, setelah kasus TBC ditemukan, selanjutnya adalah pengobatan. Keberhasilan pengobatan ini harus kita laporkan, sebab pengobatan TBC ini jangka waktunya lumayan lama, rata-rata enam bulan,” jelas Prih Hartanto, Selasa (11/11/2025).
Ia menambahkan bahwa pasien wajib minum obat yang disediakan gratis dari program pusat secara rutin, dan proses ini harus didampingi oleh tenaga kesehatan dari Puskesmas terdekat untuk menjamin kepatuhan dan kesembuhan.
Selain fokus pada penyembuhan pasien aktif, Dinkes Blora juga memprioritaskan pencegahan bagi orang-orang terdekat yang berisiko tertular.
Menurut Prih, ketika satu kasus TBC aktif terdeteksi, ada risiko penularan bagi orang serumah atau yang berinteraksi dalam satu lingkungan untuk waktu yang lama.
Untuk itu, mereka yang berisiko tinggi tersebut akan mendapatkan Obat Pencegahan TBC. Upaya skrining TBC aktif telah menyasar kelompok padat penduduk, termasuk pondok pesantren.
Dinkes Blora telah melakukan pemeriksaan di 106 dari 107 pesantren aktif. Prih Hartanto mengungkapkan bahwa di lingkungan padat seperti pesantren, penanganan dilakukan dengan ketat.
“Tentunya ketika satu kasus ditemukan, kita akan memberikan anjuran arahan kepada pimpinan pondok pesantren untuk mengisolasi tersendiri. Artinya, jangan sampai potensi penularan itu terjadi di teman-teman yang terdekatnya,” tegasnya.