
BERITABLORA.ID – Sri Purwati tak akan pernah melupakan 15 Februari 2025.
Tanggal itu terukir kuat dalam ingatannya, puluhan siswa kelas 3 selamat dari tragedi atap ambrol di SDN 1 Plosorejo, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora.
Pagi itu, sebelum kegiatan belajar dimulai, Sri Purwati merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan ruang kelas 3.
Bangunan tampak rapuh dan menimbulkan rasa tidak aman. Dengan pertimbangan tersebut, ia memutuskan untuk tidak menggelar pembelajaran di dalam kelas.
Para siswa diajak berpindah ke halaman sekolah dan belajar di ruang terbuka.
Keputusan sederhana itu ternyata menjadi penentu keselamatan. Sekitar 10 menit setelah ruang kelas dikosongkan, suara dentuman keras mengagetkan sekolah.
Atap kelas ambrol, genteng-genteng berjatuhan ke dalam ruangan yang sebelumnya ditempati murid-murid.
Sri Purwati menuturkan, saat itu ia mendapat amanah menjaga siswa kelas 3 karena guru kelasnya sedang melayat.
Kebetulan, murid kelas 6 yang ia ampu tengah mengikuti pelajaran olahraga sehingga ia tidak mengajar.
“Saya tidak berani masuk kelas. Perasaan saya bangunannya sudah rapuh,” ujarnya saat ditemui, Senin (19/1/2026).
Ia lalu mengajak seluruh siswa keluar, menggelar tikar di halaman, dan memberi mereka tugas.
Setelah memastikan anak-anak aman, Sri sempat izin ke kantin untuk sarapan. Tak lama berselang, suara keras terdengar.
“Saya lari sambil menangis. Alhamdulillah, murid-murid sudah di luar semua dan selamat,” tuturnya dengan suara bergetar.
Sri bersyukur tak ada satu pun siswa yang menjadi korban dalam insiden tersebut.
Rasa haru dan lega bercampur menjadi satu ketika ia menyadari firasatnya telah menyelamatkan banyak nyawa.
Sementara itu, Kepala SDN 1 Plosorejo, Sugito, mengungkapkan bahwa pihak sekolah sebenarnya telah mengajukan permohonan perbaikan ruang kelas sejak 2024 kepada Dinas Pendidikan Blora.
Pengajuan itu kembali diperbarui pada 2025, termasuk dalam program revitalisasi, namun belum juga mendapat tindak lanjut.
Menurut Sugito, kendala administrasi menjadi salah satu penyebab tertundanya perbaikan.
Data pengajuan belum sepenuhnya masuk melalui sistem SIPD dari pihak desa, sehingga proses penganggaran tidak bisa segera dilakukan.
Akibat kerusakan tersebut, sebagian siswa kini terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar di Aula Balai Desa dan ruang PKK. Pemindahan ini mulai dilakukan sejak awal semester berjalan.
Menanggapi kejadian itu, Kasi Sarpras dan Aset SD Dinas Pendidikan Blora, Abdul Mufid, menyatakan pihaknya akan mengusulkan perbaikan gedung dalam APBD Perubahan 2026.
Selain itu, revitalisasi juga direncanakan kembali diusulkan untuk tahun 2027.
“Yang terpenting, sekolah ini bisa segera ditangani agar kegiatan belajar mengajar berlangsung aman dan nyaman,” jelasnya.
Mufid memperkirakan anggaran perbaikan mencapai Rp 300 juta hingga Rp 400 juta.
Kerusakan mencakup empat ruang kelas dalam satu gedung, terutama pada bagian atap dan rangka, serta ditambah kondisi toilet yang juga memerlukan perbaikan.
Ia juga menjelaskan bahwa usulan sebelumnya belum terealisasi karena perubahan kebijakan pendanaan, termasuk ditiadakannya Dana Alokasi Khusus (DAK) pada 2025 dan keterbatasan prioritas APBD saat itu.
“Namun sekarang kondisinya sudah darurat karena atap benar-benar ambrol dan harus segera ditangani,” pungkasnya.